Rabu, 28 Juli 2010

36 Sun Tzu Art of War

36 Sun Tzu Art of War


Bab 1. Strategi untuk Menang


Strategi 1
Perdaya Langit untuk melewati Samudera.
Bergerak di kegelapan dan bayang-bayang, menggunakan tempat-tempat tersembunyi, atau bersembunyi di belakang layar hanya akan menarik kecurigaan. Untuk memperlemah pertahanan musuh anda harus bertindak di tempat terbuka menyembunyikan maksud tersembunyi anda dengan aktivitas biasa sehari-hari.

Strategi 2
Kepung Wei untuk menyelamatkan Zhao.
Ketika musuh terlalu kuat untuk diserang, seranglah sesuatu yang berharga yang dimilikinya. Ketahui bahwa musuh tidak selalu kuat di semua hal. Entah dimana, pasti ada celah di antara senjatanya, kelemahan pasti dapat diserang. Dengan kata lain, anda dapat menyerang sesuatu yang berhubungan atau dianggap berharga oleh musuh untuk melemahkannya secara psikologis.

Strategi 3
Pinjam tangan seseorang untuk membunuh. (Bunuh dengan pisau pinjaman.)
Serang dengan menggunakan kekuatan pihak lain (karena kekuatan yang minim atau tidak ingin menggunakan kekuatan sendiri). Perdaya sekutu untuk menyerang musuh, sogok aparat musuh untuk menjadi pengkhianat, atau gunakan kekuatan musuh untuk melawan dirinya sendiri.

Strategi 4
Buat musuh kelelahan sambil menghemat tenaga.
Adalah sebuah keuntungan, merencanakan waktu dan tempat pertempuran. Dengan cara ini, anda akan tahu kapan dan di mana pertempuran akan berlangsung, sementara musuh anda tidak. Dorong musuh anda untuk menggunakan tenaga secara sia-sia sambil anda mengumpulkan/menghemat tenaga. Saat ia lelah dan bingung, anda dapat menyerangnya.

Strategi 5
Gunakan kesempatan saat terjadi kebakaran untuk merampok lainnya. (Merampok sebuah rumah yang terbakar.)
Saat sebuah negara mengalami konflik internal, ketika terjangkit penyakit dan kelaparan, ketika korupsi dan kejahatan merajalela, maka ia tidak akan bisa menghadapi ancaman dari luar. Inilah waktunya untuk menyerang.

Strategi 6
Berpura-pura menyerang dari timur dan menyeranglah dari barat.
Pada tiap pertempuran, elemen dari sebuah kejutan dapat menghasilkan keuntungan ganda. Bahkan ketika berhadapan langsung dengan musuh, kejutan masih dapat digunakan dengan melakukan penyerangan saat mereka lengah. Untuk melakukannya, anda harus membuat perkiraan akan apa yang ada dalam benak musuh melalui sebuah tipu daya.


Bab 2. Strategi Berhadapan dengan Musuh

Strategi 7
Buatlah sesuatu untuk hal kosong.
Anda menggunakan tipu daya yang sama dua kali. Setelah breaksi terhadap tipuan pertama dan –biasanya- kedua, musuh akan ragu-ragu untuk bereaksi pada tipuan yang ketiga. OLeh karenanya, tipuan ketiga adalah serangan sebenarnya untuk menangkap musuh saat pertahanannya lemah.

Strategi 8
Secara rahasia pergunakan lintasan Chen Chang. (Perbaiki jalan utama untuk mengambil jalan lain.)
Serang musuh dengan dua kekuatan konvergen. Yang pertama adalah serangan langsung, sesuatu yang sangat jelas dan membuat musuh mempersiapkan pertahanannya. Yang kedua secara tidak langsung, sebuah serangan yang menakutkan, musuh tidak mengira dan membagi kekuatannya sehingga pada saat-saat terakhir mengalami kebingungan dan kemalangan.

Strategi 9
Pantau api yang terbakar sepanjang sungai.
Tunda untuk memasuki wilayah pertempuran sampai seluruh pihak yang bertikai mengalami kelelahan akibat pertempuran yang terjadi antar mereka. Kemudian serang dengan kekuatan penuh dan habiskan.

Strategi 10
Pisau tersarung dalam senyum.
Puji dan jilat musuh anda. Ketika anda mendapat kepercayaan darinya, anda bergerak melawannya secara rahasia.

Strategi 11
Pohon prem berkorban untuk pohon persik. (Mengorbankan perak untuk mempertahankan emas.)
Ada suatu keadaan dimana anda harus mengorbankan tujuan jangka pendek untuk mendapatkan tujuan jangka panjang. Ini adalah strategi kambing hitam dimana seseorang akan dikorbankan untuk menyelamatkan yang lain.

Strategi 12
Mencuri kambing sepanjang perjalanan (Ambil kesempatan untuk mencuri kambing.)
Sementara tetap berpegang pada rencana, anda harus cukup fleksibel untuk mengambil keuntungan dari tiap kesempatan yang ada sekecil apapun.

Bab 3. Strategi Penyerangan

Strategi 13
Kagetkan ular dengan memukul rumput di sekitarnya.
Ketika anda tidak mengetahui rencana lawan secara jelas, serang dan pelajari reaksi lawan. Perilakunya akan membongkar strateginya.

Strategi 14
Pinjam mayat orang lain untuk menghidupkan kembali jiwanya. (Menghidupkan kembali orang mati.)
Ambil sebuah lembaga, teknologi, atau sebuah metode yang telah dilupakan atau tidak digunakan lagi dan gunakan untuk kepentingan diri sendiri. Hidupkan kembali sesuatu dari masa lalu dengan memberinya tujuan baru atau terjemahkan kembali, dan bawa ide-ide lama, kebiasaan, dan tradisi ke kehidupan sehari-hari.

Strategi 15
Giring macan untuk meninggalkan sarangnya.
Jangan pernah menyerang secara langsung musuh yang memiliki keunggulan akibat posisinya yang baik. Giring mereka untuk meninggalkan sarangnya sehingga mereka akan terjauh dari sumber kekuatannya.

Strategi 16
Pada saat menangkap, lepaslah satu orang.
Mangsa yang tersudut biasanya akan menyerang secara membabi buta. Untuk mencegah hal ini, biarkan musuh percaya bahwa masih ada kesempatan untuk bebas. Hasrat mereka untuk menyerang akan teredam dengan keinginan untuk melarikan diri. Ketika pada akhirnya kebebasan yang mereka inginkan tersebut tak terbukti, moral musuh akan jatuh dan mereka akan menyerah tanpa perlawanan.

Strategi 17
Melempar Batu Bata untuk mendapatkan Giok.
Persiapkan sebuah jebakan dan perdaya musuh anda dengan umpan. Dalam perang, umpan adalah ilusi atas sebuah kesempatan untuk memperoleh hasil. Dalam keseharian, umpan adalah ilusi atas kekayaan, kekuasaan, dan sex.

Strategi 18
Kalahkan musuh dengan menangkap pemimpinnya.
Jika tentara musuh kuat tetapi dipimpin oleh komandan yang mengandalkan uang dan ancaman, maka ambil pemimpinnya. Jika komandan mati atau tertangkap maka sisa pasukannya akan terpecah belah atau akan lari ke pihak anda. Akan tetapi jika pasukan terikat atas sebuah loyalitas terhadap pimpinannya, maka berhati-hatilah, pasukan akan dapat melanjutkan perlawanan dengan motivasi balas dendam.

Bab 4. Strategi Chaos/Kekacauan

Strategi 19
Jauhkan kayu bakar dari tungku masak. (Lepaskan pegangan kayu dari kapaknya.)
Ketika berhadapan dengan musuh yang sangat kuat untuk menghadapinya secara langsung anda harus melemahkannya dengan meruntuhkan pondasinya dan menyerang sumberdayanya.

Strategi 20
Memancing di air keruh.
Sebelum menghadapi pasukan musuh, buatlah sebuah kekacauan untuk memperlemah persepsi dan pertimbangan mereka. Buatlah sesuatu yang tidak biasa, aneh, dan tak terpikirkan sehingga menimbulkan kecurigaan musuh dan mengacaukan pikirannya. Musuh yang bingung akan lebih mudah untuk diserang.

Strategi 21
Lepaskan kulit serangga. (Penampakan yang salah menipu musuh.)
Ketika anda dalam keadaan tersudut, dan anda hanya memiliki kesempatan untuk melarikan diri dan harus mengonsolidasi kelompok, buatlah sebuah ilusi. Sementara perhatian musuh terfokus atas muslihat yang anda lakukan, pindahkan pasukan anda secara rahasia di belakang muka anda yang terlihat.

Strategi 22
Tutup pintu untuk menangkap pencuri.
Jika anda memiliki kesempatan untuk menangkap seluruh musuh maka lakukanlah, sehingga dengan demikian pertempuran akan segera berakhir. Membiarkan musuh untuk lepas akan menanam bibit dari konflik baru. Akan tetapi jika mereka berhasil melarikan diri, berhati-hatilah dalam melakukan pengejaran.

Strategi 23
Berteman dengan negara jauh dan serang negara tetangga.
Jamak diketahui bahwa negara yang berbatasan satu sama lain menjadi musuh sementara negara yang terpisah jauh merupakan sekutu yang baik. Ketika anda adalah yang terkuat di sebuah wilayah, ancaman terbesar adalah dari terkuat kedua di wilayah tersebut, bukan dari yang terkuat di wilayah lain.

Strategi 24
Cari lintasan aman untuk menjajah Kerajaan Guo.
Pinjam sumberdaya sekutu untuk menyerang musuh bersama. Sesudah musuh dikalahkan, gunakan sumberdaya tersebut untuk menempatkan sekutu anda pada posisi pertama –untuk diserang-.

Bab 5

Strategy 25
Gantikan balok dengan kayu jelek.
Kacaukan formasi musuh, ganggu metode operasinya, ubah aturan-aturan yang digunakannya, buatlah sebuah hal yang berlawanan dengan latihan standarnya. Dengan cara ini anda telah meruntuhkan tiang-tiang pendukung yang dibutuhkan oleh musuh dalam membangun pasukan yang efektif.

Strategi 26
Lihat pada pohon murbei dan ganggu ulatnya.
Untuk mendisiplinkan, mengontrol, dan mengingatkan suatu pihak yang status atau posisinya di luar konfrontasi langsung; gunakan analogi atau sindiran. Tanpa langsung menyebut nama, pihak yang tertuduh tidak akan dapat memukul balik tanpa keberpihakan yang jelas.

Strategi 27
Pura-pura menjadi seekor babi untuk memakan macan. (Bergaya bodoh.)
Sembunyi di balik topeng ketololan, mabuk, atau gila untuk menciptakan kebingungan atas tujuan dan motivasi anda. Giring lawan anda ke dalam sikap meremehkan kemampuan anda sampai pada akhirnya terlalu yakin akan diri sendiri sehingga menurunkan level pertahanannya. Pada situasi ini anda dapat menyerangnya.

Strategi 28
Jauhkan tangga ketika musuh telah sampai di atas (Seberangi sungai dan hancurkan jembatan.)
Dengan umpan dan tipu muslihat giring musuh anda ke dalam daerah berbahaya. Kemudian putus jalur komunikasi dan jalan untuk melarikan diri. Untuk menyelamatkan dirinya, dia harus bertarung dengan kekuatan anda dan sekaligus elemen alam.

Strategi 29
Hias pohon dengan bunga palsu.
Menempelkan kembang sutera di atas pohon memberikan sebuah ilusi bahwa pohon tersebut sehat. Dengan menggunakan muslihat dan penyamaran akan membuat sesuatu yang tak berarti tampak berharga; tak mengancam kelihatan berbahaya; bukan apa-apa kelihatan berguna.

Strategi 30
Buat tuan rumah dan tamu bertukar tempat.
Kalahkan musuh dari dalam dengan menyusup ke dalam benteng lawan di bawah muslihat kerjasama, penyerahan diri, atau perjanjian damai. Dengan cara ini anda akan menemukan kelemahan dan kemudian saat pasukan musuh sedang beristirahat, serang secara langsung ke jantung pertahanannya.

Bab 6 Strategi Kalah

Strategi 31
Jebakan indah. (jebakan bujuk rayu, gunakan seorang perempuan untuk menjebak seorang laki-laki.)
Kirim musuh anda perempuan-perempuan cantik yang akan menyebabkan perselisihan di basis pertahanannya. Strategi ini dapat bekerja pada tiga tingkatan. Pertama, penguasa akan terpesona oleh kecantikannya sehingga akan melalaikan tugasnya dan tingkat kewaspadaannya akan menurun. Kedua, para laki-laki akan menunjukkan sikap agresifnya yang akan menyulut perselisihan kecil di antara mereka, menyebabkan lemahnya kerjasama dan jatuhnya semangat. Ketiga, para perempuan akan termotivasi oleh rasa cemburu dan iri, sehingga akan membuat intrik yang pada gilirannya akan semakin memperburuk situasi.

Strategi 32
Kosongkan benteng. (Jebakan psikologis, benteng yang kosong akan membuat musuh berpikir bahwa benteng tersebut penuh dengan jebakan.)
Ketika musuh kuat dalam segi jumlah dan situasinya tidak menuntungkan bagi diri anda, maka tanggalkan seluruh muslihat militer dan bertindaklah seperti biasa. Jika musuh tidak mengetahui secara pasti situasi anda, tindakan yang tidak biasanya ini akan meningkatkan kewaspadaan. Dengan sebuah keberuntungan, musuh akan mengendorkan serangan.

Strategi 33
Biarkan mata-mata musuh menyebarkan konflik di wilayah pertahanannya. (Gunakan mata-mata musuh untuk menyebarkan informasi palsu.)
Perlemah kemampuan tempur musuh anda dengan secara diam-diam membuat konflik antara musuh dan teman, sekutu, penasihat, komandan, prajurit, dan rakyatnya. Sementara ia sibuk untuk menyelesaikan konflik internalnya, kemampuan tempur dan bertahannya akan melemah.

Strategi 34
Lukai diri sendiri untuk mendapatkan kepercayaan musuh. (Masuk pada jebakan; jadilah umpan.)
Berpura-pura terluka akan mengakibatkan dua kemungkinan. Kemungkinan pertama, musuh akan bersantai sejenak oleh karena dia tidak melihat anda sebagai sebuah ancaman serius. Yang kedua adalah jalan untuk menjilat musuh anda dengan berpura-pura luka oleh sebab musuh merasa aman.

Strategi 35
Ikat seluruh kapal musuh secara bersamaan (Jangan pernah bergantung pada satu strategi.)
Dalam hal-hal penting, seseorang harus menggunakan beberapa strategi yang dijalankan secara simultan. Tetap berpegang pada rencana berbeda-beda yang dijalankan pada sebuah skema besar; dengan cara ini, jika satu strategi gagal, anda masih memiliki beberapa strategi untuk tetap maju.

Strategi 36
Selain dari semua hal di atas, salah satu yang paling dikenal adalah strategi ke 36:

lari untuk bertempur di lain waktu. Hal ini diabadikan dalam bentuk peribahasa Cina:

“Jika seluruhnya gagal, mundur”

Jika keadaannya jelas bahwa seluruh rencana aksi anda akan mengalami kegagalan, mundurlah dan konsolidasi pasukan. Ketika pihak anda mengalami kekalahan hanya ada tiga pilihan: menyerah, kompromi, atau melarikan diri. Menyerah adalah kekalahan total, kompromi adalah setengah kalah, tapi melarikan diri bukanlah sebuah kekalahan. Selama anda tidak kalah, anda masih memiliki sebuah kesempatan untuk menang!

Jumat, 16 Juli 2010

GRUNGE : SEBAGAI SUBKULTUR DAN GAYA

Saya tidak begitu tahu segalanya mengenai sejarah masuknya Grunge ke Indonesia atau siapa yang pertama kali mengusung bendera Grunge di tanah air ini. Nama TOILET SOUND muncul di benak saya dengan pertimbangan bahwa mereka adalah band Grunge dari Jakarta yang sering manggung di POSTER Café tahun 1996, dimana pada saat itu sangat sedikit band pengusung Grunge semacam mereka bisa gigs disandingkan dengan band-band Underground Indonesia generasi pertama seperti Brain The Machine, Bloody Gore, Jepit Rambut, Dead Pits, Rumah Sakit, dan lain-lain yang sudah getol pentas di POSTER café.

Tapi saya mohon maaf sebesar-besarnya bahwa saya tidak akan mengulas siapa-siapa para “pendekar” Grunge, disini saya hanya akan membahas segi antropologi musik Grunge saja. Kajian tentang cara mengenali suatu budaya dari komunitas tertentu dan menghubungkannya dengan kehidupan sosial masing-masing individu yang berpengaruh juga terhadap komunitas Grunge Indonesia.

Kita tahu Grunge itu memiliki karakteristik gaya yang tidak jauh berbeda dengan subkultur lainnya (terkesan urakan). Jeans bolong, flannel, sepatu kets, dan rambut panjang yang jarang dikeramas. Tapi sebenarnya Grunge justru lahir karena kemuakan generasi muda terhadap gaya. Dimulai sejak akhir tahun 1980-an, para generasi muda dari Seattle Sound merombak segala bentuk gaya menjadi sesuatu yang “tak bergaya” sama sekali. Terkesan menjijikan karena teramat kotor dan jauh dari segala bentuk yang “cemerlang” apalagi mewah. Jika analogi tersebut murni adanya, lalu mengapa saat ini di era 20 tahun telah berlalu, dimana flannel telah menjadi suatu gaya yang usang, anak-anak Grunge masih memakai segala atribut tersebut? Bagaimana jika kita lebih menitikberatkan pada yang “terkesan menjijikan karena teramat kotor dan jauh dari segala bentuk yang “cemerlang” apalagi mewah” itu? Flannel, jeans bolong, sepatu kets sudah tidak lagi terkesan urakan sebagai akibat komoditas bisnis di bidang fashion yang telah “menjual” ke-grungy-an Seattle Sound.

Akar permasalahan yang sering dibicarakan mengenai musik independen tidak akan jauh-jauh dari persoalan tentang gaya/fashion. Saya juga agak terganggu dengan orang-orang yang selalu mempertanyakan kenapa gaya atau fashion itu terkesan dipentingkan dalam pergerakan subkultur. Ok, saya ajak kalian untuk menilik tulisan Dick Hebdige dari bukunya yang berjudul “Asal-Usul dan Ideologi Subkultur Punk” (Subculture ; The Meaning Of Style. Routledge, London dan New York, 1999, Cetakan XIII. Diterbitkan pertama kali oleh Methuen & Co. Ltd. 1979). Ya, mungkin agak terkesan aneh kenapa saya lebih memilih referensi dari buku-buku Punk, tak lain karena sesungguhnya semua kode etik Do It Yourself memang lahir karena Punk. Dalam buku tersebut diatas dikatakan bahwa gaya memiliki tujuan dan karakteristik tertentu, yaitu :


1. GAYA SEBAGAI KOMUNIKASI INTENSIONAL.
Mengartikulasikan kode dan praktik spesifik.


2. GAYA SEBAGAI SEBAGAI BRICOLAGE.
Menegaskan perbedaan subkultur dari formasi budaya yang lebih ortodoks. Mengacu pada sarana dengan apa pikiran nir-terpelajar, nir-teknis dari apa yang kita sebut manusia “primitif” menanggapi dunia sekitarnya. Proses ini memakai “sains konkret” (sebagai lawan dari sains “beradab” kita yang “abstrak”), jauh dari tak memiliki logika, ternyata ia disusun dengan saksama dan cermat, dengan menggolong-golongkan dan menata rincian remeh di dunia fisik yang demikian melimpah ruah itu menjadi struktur, dengan memakai sarana “logika” yang bukan milik kita sendiri. Struktur ini, “diimprovisasikan” atau dibuat-buat (ini terjemahan kasar dari bricoleur) sebagai tanggapan ad hoc terhadap suatu lingkungan. Ia kemudian berperan dalam menyusun homologi dan analogi antara yg disusun alam dan yang disusun masyarakat, dan dgn sangat memuaskan “menjelaskan” dunia ini dan membuatnya dapat dihuni.


3. GAYA MEMBERONTAK : GAYA “MENJIJIKKAN”.
Mengekspresikan penyimpangan dengan pengertian proletarian yang sepadan.


4. GAYA SEBAGAI HOMOLOGI.
Melukiskan kecocokan simbolik antara nilai-nilai dan gaya hidup suatu kelompok, pengalaman subjektif serta forma musik yang dipakai untuk mengekspresikan atau memperkuat kepedulian pokok.


5. GAYA SEBAGAI PRAKTIK SIGNIFIKASI.
Menguak sejumlah makna tersembunyi yang baku, dibuang demi gagasan polisemi di mana masing-masing teks dipandang membangkitkan kisaran makna yang tak terbatas kemungkinannya.

Sedangkan Simbolik adalah bagian besar bahasa yang menamai dan menghubungkan segala sesuatu, inilah kesatuan dari KOMPETENSI SEMANTIK dan SINTATIK yang memungkinkan tampilnya komunikasi dan nalar.



Menilik dari pembahasan dalam buku tersebut bahwa gaya/fashion juga merupakan salah satu senyawa penting dalam berekspresi sehingga kita dapat mengenali maksud dan tujuan dari yang diterapkan seorang individu maupun kelompok. Musik dan fashion tidak akan pernah lepas satu sama lain. Sebab keduanya merupakan pengejewantahan kebebasan berekspresi dalam segi estetika maupun adab.

Grunge lebih dekat kesamaannya dengan ciri khas Punk, memiliki gambaran „menjijikan“ masing-masing yang bagi sebagian besar masyarakat tidak nyaman untuk dipandang. Disini kita berhadapan dengan gaya sebagai pemberontakan terhadap sistem yang menyimpang, bertujuan untuk merombak segala kemapanan yang bodoh dan menindas. Generasi muda sudah bosan dengan segala atribut hasil buatan pabrik dimana corak budayanya berbau proletarian/pemaksaan dan menuntut mereka untuk seragam. Bosan dengan keadaan yang itu-itu saja dan berharap dengan melakukan perubahan akan membuat hidup mereka menjadi lebih nyaman untuk dijalani.

Meskipun ada hubungan erat, integritas kedua forma ini tetap dipertahankan dengan cermat. Jauh dari meniru forma lain dan cenderung berkembang menjadi antitesis langsung dari sumber-sumbernya yang nyata. Namun, cara kedua forma ini dipisahkan dengan ketat, seolah-olah hendak membawa kita kepada identitas tersembunyi, yang pada gilirannya dapat dipakai untuk menjelaskan pola interaksi. Grunge dan Punk secara metaforis dapat diperluas ke isu ras dan hubungan ras yang lebih besar sehingga terjadi krisis identitas, berkaitan dengan kontradiksi dan ketegangan lebih umum yang menghalangi berkembangnya dialog terbuka antar kultur.

Ketika suatu musik dan aneka subkultur yang didukung atau reproduksi mengalami kekakuan dan dapat dikenali polanya, terciptalah subkultur baru yang membutuhkan mutasinya dalam bentuk musik. Mutasi ini baru terjadi ketika overdeterminasi musik Seattle Sound merusak struktur musik yang telah ada dan mendesak berbagai unsurnya ke suatu figurasi baru, sebagai contoh yaitu ketika Nirvana sukses menggeser posisi King Of Pop Michael Jackson di peringkat teratas industri musik dunia pada tahun 1991, budaya Pop yang merajai tahun 80an pun menjadi mati dan diganti dengan wajah Grunge sebagai mutasi untuk figurasi baru tersebut : celana sobek, sepatu kets (Converse), rambut acak yang kesemuanya merupakan ciri khas Kurt Cobain, menjadi trend di kalangan anak muda dunia.

Grunge dengan demikian termasuk ke dalam forma ekspresif sebagai bentuk resistensi di mana kontradiksi yang dialami maupun penolakan terhadap ideologi yang berkuasa secara tak langsung direpresentasikan lewat gaya. Melahirkan tampilan dan sound baru yang menjadi umpan balik bagi industri-industri yang sesuai (forma komoditas). Seperti dicatat John Clark : „penyebar luasan gaya pemuda dari subkultur menuju ke pasar fashion bukan sekedar proses kultural, melainkan suatu jejaring atau jenis baru institusi komersial dan ekonomi. Toko-toko rekaman berskala kecil, perusahaan rekaman, butik atau perusahaan produksi yang dikelola satu dua perempuan – kapitalisme versi artisan ini, alih-alih fenomena yang berlaku umum dan tak khas, menjadi konteks dialektika manipulasi komersial tersebut.“

Kamis, 15 Juli 2010

Blantikamusikville

Strategi Blantikamusikville



Kalah Sebelum Berperang

Bagi sebuah band lokal, menjadi terkenal (diundang manggung ke berbagai kota, single andalan merajai berbagai chart radio terhormat, kerap tampil di televisi nasional, dsb) sering berhenti hanya sekadar jadi obsesi muluk, sebatas mimpi indah. Angan-angan sejuk tersebut belum apa-apa macet begitu saja bukannya tanpa sebab.

Kompetisi yang ultra ketat, jarak yang jauh ke pusat industri hiburan (baca: Jakarta), infrastruktur yang terbatas lagi mahal, minimnya koneksi ke sosok-sosok kunci dunia entertainment (pihak label, penyelenggara konser, orang radio, pencari bakat di televisi); menjadi barisan kendala paling wahid dalam perjalanan meraih cita-cita.

Dan akibat ketidaksigapan mengatasi kerikil-kerikil penghambat itu, jamak terjadi, artis-artis lokal nan berbakat kemudian meraih gelar juara hanya di daerahnya sendiri, mentok menjadi jago kandang saja, tingkat popularitas dalam skala duhai sempit.

Hey, jangan keburu putus asa, jangan instan menyerah. Di sini, kita kupas beberapa kiat menyiasati ragam masalah di atas.


Internal Affair

Dinamika persaingan di skena musik Nusantara bak medan perang saja. Sebelum berangkat ke zona pertempuran tentu harus menyiapkan segala macam senjata, musti konsolidasi ke dalam dulu.

Iya, yang paling mula adalah pembenahan domestik :


1. Nama Kelompok

Identitas ini penting untuk menunjukkan ke publik siapa diri anda, apa maunya anda. Saat anda memilih nama semacam Kangen Band anda sudah jelas mau menyasar kelompok masyarakat yang mana. Media Distorsi dari sebelum berangkat pasti telah sadar akan susah diakrabi oleh strata kuli bangunan. Benar, sejak awal anda perlu mengambil positioning yang tegas.



2. KTP Genre

Ketika ditanya jenis musik apa yang anda mainkan, sebaiknya hindari jawaban ambigu, “Kita tidak mematok pada satu jenis musik saja” atau “Bebas saja, silakan sebut sesukanya”.
Lha, kalau anda sendiri tidak tahu apa yang anda kerjakan, bagaimana orang lain?
Orang lain tak punya waktu untuk sibuk memikirkan/menebak/mencari tahu apa maunya anda, si artis baru.

Bikin istilah yang menarik jika anda memang cukup kreatif seperti High Octane Rock dan berikutnya baru beri penjelasan what the friggin’ hell is that. Atau kutip satu genre yang sudah umum dikenal orang semisal Pop Rock lalu selanjutnya deskripsikan lebih mengerucut: “Bayangkan Sheila On 7 dengan distorsi gitar yang lebih garang”.



3. Busana / Wardrobe / Penampilan

Ingat, anda berkutat di dunia hiburan.
Publik sudah terlanjur menaruh harapan berbeda pada anda. “Glam & Glitter” adalah nama tengah anda yang baru. Jadi hindari berpakaian terlalu biasa. Bedakan penampilan ketika nongkrong di warung kopi dengan ketika anda beraksi di panggung.

Tampil di sebuah konser musik dan pergi membeli Indomie di mini mart depan rumah dandanannya kudu berbeda. Pula, sebisanya genre yang anda mainkan klop dengan tampilan visual anda. Jangan mengenakan pakaian nan futuristik, pseudo-astronot, jika rumpun musik anda termasuk Pop Balada.



4. Rekan Kerja

Bangun team work yang solid. Ketika dana adalah kendala utama, bentuk yang paling sederhana dulu: personel band + manajer + soundman.

Personel band selain bertugas menjadi penghibur juga bisa merangkap menjadi crew bagi dirinya sendiri. Manajer selain mengurusi hal-hal administratif (menindaklanjuti kesepakatan kontrak, follow up technical riders, dll) lazim beralih fungsi menjadi crew. Soundman, biarkan beliau selesaikan dulu urusan ladangnya. Jika memang ada celah luang (yang notabene amat jarang), bisa saja beliau membantu sekedarnya di departemen lain.

Camkan, posisi soundman ini sangat vital sebab beliaulah “pengantar pesan” anda. Seberapapun adiluhung dan cemerlangnya permainan anda, jika suara yang keluar dari sound system-nya berantakan niscaya segala atraksi akrobatik anda jadi percuma semata.

Sebagai perbandingan, untuk acara-acara di luar kota dengan bayaran pas-pasan, cukup kerap terjadi di sebuah band, yang diberangkatkan hanya personel band DAN soundman. Manajer disimpan dulu di rumah, hanya ditugaskan menyelesaikan tetek bengek perkara administratif sebelum tim diberangkatkan. Soundman? Itu tadi, sehidup semati dengan band. Band berkemas, soundman juga bergegas.



5. Attitude / Prilaku

Duh gusti susah sekali berinteraksi dengan penganut “budaya Timur” seperti bangsa Indonesia ini. Terlalu riuh ewuh pakewuh. Kelewat berlimpah rambu-rambu haram dan halal. Memegang kepala orang tua tidak boleh tapi membuang bayi ke got adalah kebiasaan lumrah.

Sebuah standar nan sengkarut. Dan komentar yang sering segampang itu muncrat dari suku Melayu: “Sombong banget tuh orang!” atau “Baru segitu aja udah besar kepala…”. Berpangku tangan, menunjuk dengan tangan kiri, berkacak pinggang, miskin basa-basi, kontan dicap arogan.

Ribet memang. Tapi ada cara untuk menyiasatinya. Usahakan di dalam kelompok anda paling tidak sang manajer (this is a must) + 1 personel band (it would be nicer) sanggup menjalankan peran sebagai humas yang ramah dan hangat. Jika sebagian besar personel band bawaan lahirnya memang introvert, lebih suka menutup diri, biar saja. Let them be. Publik masih agak-agak bisa mengerti dengan tingkah polah mereka. “Yah, namanya juga seniman…”, begitu biasanya permakluman yang muncul. Namun jangan sampai seluruh entitas band mencitrakan kesan angkuh/congkak/pongah. Di sinilah fungsi Public Relation jadi maha penting dalam mendongkrak imej anda sebagai artis.

Dengan berinisiatif menjadi sosok yang ramah dan bersahabat paling tidak anda akan lebih mudah dibukakan pintu hati, lebih berpeluang diberi kesempatan oleh lawan bicara. Apa susahnya sih untuk tersenyum lebih sering dan lebih lebar?



6. Lagu

Tulis, gubah, karang lagu yang kuat. Well, anda lebih paham tentang apa maunya anda. Subjek berkesenian, itu wilayah anda paling asasi. Adalah asusila jika saya sampai mengintervensi. Saya hanya bilang, boleh-boleh saja anda mengikuti trend asal jangan terlalu larut dengannya.

Walau berjuta artis lain melakukan hal yang sama, silakan saja kembali menulis lagu tentang cinta sebab pada dasarnya tema cinta memang cenderung tak lekang oleh waktu. Namun harus diingat, saat sudah sebegitu berjubel artis lain berkisah tentang selingkuh, anda jangan masih turut berdesakan menyuarakan hal tersebut. Momentumnya sudah kadaluwarsa, bung.

Ambil sub-tema cinta yang lain misalnya—sekalian konfrontatif—kesetiaan. Atau backstreet love. Atau asmara jarak jauh. Atau jatuh hati pada hijaunya negeri (makna cinta yang lebih lebar). Matter of fact, yang paling baik sih tidak terpaku pada cinta melulu. Eksplorasi, bung, eksplorasi.



7. Materi Publikasi

Selalulah siap dengan cakram digital sebagai perangkat promo yang ringkas namun efektif. Tulis biografi/press release anda—lengkap dengan contact person, diskografi + gigografi—dengan singkat, padat dan tetap menarik (kalau perlu sisihkan sedikit uang anda untuk membayar penulis yang cakap di bidang ini). Sertakan juga satu atau dua lagu (berikut judulnya) + videoklip (jika ada) sebagai pelengkap introduksi. Sinopsis yang atraktif umumnya jitu menggaet minat orang untuk mengenal anda secara lebih dekat.

!Achtung: Biografi maksimal terlampir di 2 halaman saja. Paling cihuy jika bisa tercakup semuanya di satu halaman. Ah, tak perlulah anda sebutkan berita picisan macam pernah tampil akustik di ulang tahun Ketua RT yang kebetulan karib Ayah anda. Data remeh temeh tadi belum perlu. Nanti ketika anda sudah menjadi artis besar baru deh ungkit-ungkit, napas tilas rekam jejak historikal anda.



8. Ramah Jagat Maya

Di jaman serba elektronik ini berjabat erat dengan teknologi internet adalah mutlak, tanpa bisa ditawar-tawar. Selain relatif murah juga jangkauannya tak terbatas (sky is the limit, if you understand what that means).

Masih berhubungan dengan tajuk sebelumnya, anda bisa berpromosi gratis lewat jejaring virtual seperti Myspace, Friendster, Multiply, Facebook, dsb. Bayangkan berapa dana yang habis untuk mengirimkan promo kit ke Kazakhstan dibanding mengiklankan diri lewat internet. Katakanlah label rekaman di Jakarta, begitu rumor tentang anda semerbak di skena musik Nusantara, mereka bisa langsung mencari tahu apa dan siapa anda via dunia maya. They can just google you. Simple as that.

Jika semua persiapan di atas sudah matang, baik dan benar; selanjutnya adalah tahap ekspansi penaklukan jazirah bernama Blantika Musik.

———————————————————

Tora! Tora! Tora!
- Nama Kelompok? Sudah.
- KTP Genre? Beres.
- Busana? Aman.
- Rekan Kerja? Sip.
- Attitude? Yahud.
- Materi Publikasi? Siap.
- Ramah Jagat Maya? Banget.

…Eh, Lagu, apa kabar? …

uumhp.., anda belum terlalu berani liar bereksplorasi?
Oh well, garap tema familiar saja dulu: cinta, asmara, amore. Rasa sayang penuh kasih pada bir dan Absolut Vodka, misalnya. Tulus mendamba kehidupan dugem yang sakinah, contohnya. Tawakal dan jatuh hati pada kilap gemerincing uang, silakan. Teguh setia menolak menjalankan perintah agama, amin. After all, luhurnya cinta sejati akan selalu mendapat tempat istimewa di hati khalayak, bukan?

Amunisi lengkap.
Percaya diri tegap.
Armed and oh-so ready.
Next destination: Blantikamusikville!


1. Networking

Jangan menunggu. Langsung jemput bola. Paling prioritas, genjot jejaring virtual, buka rekening di Myspace/Multiply/Friendster/Facebook/whatever, karena ini paling murah.
Undang para kenalan untuk jadi teman anda. Undang juga band lain. Beri sentuhan personal, introduksi diri dengan rendah hati, tulis barang 2 - 3 kalimat salam perkenalan. Pasti lebih impresif dibanding ujug-ujug irit bicara nyelonong minta di-add sekenanya. Tidak perlu menimbun teman hingga ribuan di internet karena percuma, mayoritas semu belaka. Secukupnya saja. Toh NOFX yang masuk di jajaran Top Friends anda di Myspace tidak tahu siapa the hell you are (yang jelas sih, ahem, si tambun culas Fat Mike tentu senang mendapatkan calon konsumen baru).

Berikutnya, mulailah menjalin kontak dengan simpul-simpul dunia hiburan (event organizers, record labels, significant sponsors, radio announcers, tv presenters, etc). Dan untuk berjaya menembus poros primer show biz sejatinya tidak ada resep khusus kembang-tujuh-rupa segala. Kuncinya hanya keluwesan bergaul, sudi fleksibel.

Merasa kurang lincah berbaur? Gampang, bebaskan diri dari atmosfer syak wasangka. Atau curiga. Atau sangsi. Atau skeptis. Dorong dan bangkitkan energi positif. Tersenyumlah ikhlas. Tertawalah lepas. Teori sok asyik, analisa sok holistik “Brand Communication & Postmodern Marketing” yang begitu anda muliakan takkan manjur jika 2 hal sederhana tadi saja anda tak bisa.



2. Penyebaran Hasil Karya

Setelah introduksi diri mendapat sambutan bersahabat, kirimkan biografi anda (yang telah dibubuhi tembang andalan + videoklip atau bootleg konser), boleh via e-mail, bisa snail mail, ke pihak-pihak terkait.

Packaging yang impresif (disokong tutur perkenalan awal anda yang ramah) rata-rata akan disambut dengan tangan terbuka. Sang lawan bicara umumnya lebih rela meluangkan waktunya untuk menginvestigasi hasta karya anda. Percayalah, faktor humanisme (hati yang bersih, gestur gembira, mata yang binar bersinar) selalu memegang peran penting dalam hubungan orang per orang. Mau dia Deputy Director Artist & Repertoire, mau dia Burisrawa, acap kali tak tega menjahati orang berpekerti santun. Word up.



3. Jam Terbang

Rajin-rajinlah tampil di arena pertunjukan. Bisa ikut festival formal. Boleh bergerilya di ajang bawah tanah. Sekalian melatih—terutama—mental. Fakta vulgar membuktikan: kepiawaian memetik gitar anda yang “sangat-Satriani” akan mendadak luluh-lantak porak-poranda akibat terlampau mega gugup, saking miskinnya pengalaman ditonton oleh orang banyak.

Dan, punahkan pikiran soal uang. Yang penting main dulu. Perkaya pengalaman dulu. Dengan frekuensi kemunculan yang deras (dus makin berkualitas), cepat atau lambat nama anda akan wangi dan banyak diminati. Bersikap optimis saja semoga efek domino akhirnya berujung di muara yang tepat: (salah satunya) diundang makan siang oleh talent scouter label besar, bercengkerama tentang wacana kerjasama.



4. Mandiri & Merdeka

Menerbitkan sendiri album perdana. Swasembada menggelar rangkaian konser demi konser atas nama eksistensi. Riang, sumringah, berkesenian sebebasnya. Salto/koprol/kayang reka cipta seenak udel anda. Wih, rasanya plong, dong. Karena tak harus—contohnya—tarik urat bergulat meyakinkan pihak label dan event promoter bahwa menjeritkan reffrain repetitif “penis sipilis” 5x adalah bukan hal tabu lagi. Benar, alternatif ini paling super asyik. Paling adi independen. Hanya, walau anda sepenuhnya berdaulat berkreasi full otonomi, sejujurnya, opsi ini paling berat.

Butuh ketahanan tingkat tinggi. Ya finansial, ya mental. Moral serta material. Jiwa maupun raga. DAN itupun bukan jaminan bahwa jika anda sanggup melalui rintangan ini maka finalnya anda meraih so-called “Fame & Fortune”. Merdeka atau binasa. Mandiri atau mati. You tell me.



That’s all...!!!

Selebihnya adalah kebijaksanaan publik dalam mengapresiasi buah karya anda.
Selebihnya adalah misteri.
Sebab tak seorang pun pernah benar-benar bisa tahu artis mana di Blantikamusikville bakal meraih bling bling bintang terang.
Tidak Quincy Jones. Tidak Ahmet Ertegun. Tidak siapa pun.
Oh well, screw that. Yang penting sekarang, maju dulu ke medan perang. Target jangka pendeknya: nama anda benderang.

Jika akhirnya dengan bekal mesiu yang sekomplet itu anda masih juga terjengkang kalah, artinya anda terjegal 3 kombinasi sakti ini:

A. Kualitas produk anda kurang optimal
B. Kehilangan momentum
C. Belum mujur


There’s no looking back. Hit the road, Bro!
With one true faith: Sharing is Believing

Sumber : Rudolf Dethu on March 17th, 2008
rewrite : Himaru Chan